Malang,
19 September 2015
ALKISAH, DISKON
270 % (Prosen)
Diskon,
iya hari ini diskon besar-besaran telah di buka di kontrak’an secara
besar-besar an tak canggung-canggung, sampai 270 %. Hemm, , namun ini bukan
diskon pemberian harga miring terhadap suatu barang, bukan. Diskon disini tak
lain adalah sebuah akronim(singkatan/kepanjangan). DISKON: Diskusi Kontrak’an
di rumah/kontrakan nomor 270.
Alhamdulillah, ini bisa dikatakan angan-angan yang sebenarnya sudah
teramat lama kupendam dan ku harapakan terealisasi atau mungkin tema-teman
lainnya juga memikirkan hal yang sama, iya mungkin hanya aku yang belum cukup
berani untuk menyampaikan gagasan kecil ini pada teman-teman,
tapi akhirnya berusaha ku letupkan kepada keluargaku, dan teman-teman menerima dengan baik sekaligus senang.
“Iya lumayan, kita bisa mengisi waktu kosong kita dengan hal yang kiranya bermanfaat”. Ungkap salah satu temanku. Sebut saja namanya Rony.
Ternyata
pria yang akrab disapa rony ini juga mempunyai gagasan yang kurang lebih sama
seperti apa yang saya pikirkan tadi. Tentu saya pun langsung mencoba memberikan
konsepan acara Diskon 270 ini. Kemudian setelah saya membuka keran pembicaraan
pada tanggal 18 september 2015, besoknya yaitu tepatnya tanggal 19 September kami
langsung Lanching acara Diskon 270. Dalam
acra diskusi ini Teknis acara nya: ada pemateri yang memberi sedikit ulasan
untuk menstimulus teman-teman sekaligus ia berperan menjadi moderator. Dan teman-teman
lainya juga mencari ulasan apa yang akan dibahs. Kala itu, Aku menantang Rony untuk menjadi pemrakarsa,
pemateri awal dalam kegiatan yang diharapkan bisa on going. (Iya, sekedar harapan yang semoga tidak utopis, namun
realistis dan penuh optimistis). Singkatnya
dalam acara Diskon tersebut, Rony sebagai pemateri akan membahas topik tertentu yang diangkatnya,
itu hak prerogatifnya. Dalam penentuan siapa yang menjadi pemateri untuk selanjutnya
yang diadakan tiap seminggu sekali ini, dilakukan dengan cara Random/diundi atau acak. Dan rony yang menjadi pengawal tadi
terlihat sangat matang mempersiapkan materi yang akan dibawanya di forum. Pria
jurusan geografi ini mengangkat Bab tentang Catatan Harian/ Buku Diary.
Diskusi
berlangsung santai, tak ada kata formal-formal an. Semua bebas berpendapat,
bisa sambil tiduran, minum, ngopi, bahkan rokok-rokok an. Saya jadi ingat acara
yang dipimpin oleh Cak Nun, yaitu Jama’ah Maiyah. Yang penting adalah kebersamaan,
bermayarakat. Walau memang, acara Diskon ini sangat sedikit pesertanya, kala
itu saja Alhamdulillah masih ada 5 orang, itupun juga berasal dari keluarga
sendiri (Yang mengontrak di 270). Iya cukup simpel acara nyuantae ini.
Oh
ya, hampir saya lupa. Setelah acara Diskon yang berdurasi 2 jam an ini ditutup,
para audien sepakat di mohon untuk menuliskan rangkuman atau simpulan yang ‘bebas’.
Tak harus sesuai pakem penulisan karya sastrawi yang sudah ada. Iya, ada batas
minimal: 1 paragraf (5 kalimat). Yang nantinya di upload di web kita semua, www.diskusikontrakan270.blogspot.co.id.
Yang jelas, secara sukarela dan tidak menjadikan alasan akan mengganggu tugas-tugas
kuliah yang selalu merundung hingga menggunung serta ke-aktifan beberapa teman
kita yang berkecimpung di Organisasi.
“(aku
berharap, setelah kita lulus nanti, semua tulisan-tulisan yang kita buat, yang
kita buahkan dari perasan otak hingga dahi kita mengkerut ini dijadikan sebuah
antologi. Dapat kita buat kenang-kenang an dan tentunya akan menjadikan
kebanggan tersendiri ketika kita sudah berkeluarga dan melihatkan atau mungkin
bahkan mendidik kannya pada anak kita nanti)”. Gumamku yang selalu
meletup-letup, berat didalam hati.
Acara ini mungkin memang sepele tapi kita
selalu berharap bahwa nantinya dapat memberikan dampak yang besar. Jua semoga
bisa menjadi istiqomah, berkah dan jama’ahpun
bertambah. Amin.
“Kita
sudah banyak makan pengetahuan, pengetahuan umum, islam, ekonomi, alam dan
sebagainya. Aku hanya ingin kita sedikit belajar mengamalkan apa yang telah
kita dapatkan. Dan menuliskan sesuatu (ilmu) adalah jika saya boleh menyebutnya
dengan sebutan ‘sunah rosul’, karena dengan menyitir kalimat dari salah satu
Nasihat dari khulafaur rosyidin, (Ikatlah
ilmu dengan menuliskannya, jika nanti kamu lupa maka tulisanmu akan
mengingatkanmu). Iya, kurang lebih seperti itulah yang diucapkan sayyida
ali bin abu tholib”. Celetukku beberapa waktu lalu saat Diskon. Kemudian Pramoedya A. Toer menambahkan, “Jika
umurmu tidak bisa me-nyamai umur dunia, maka sambunglah umurmu dengan tulisan. Karena
dengan kau menulis, suaramu abadi. Suaramu tak akan padam, tak akan hilang ditelan
waktu dan zaman”. Bahkan suara kita akan lebih keras bergema ketika kita
dibawah tanah.
Saya
disini bukan menjadi sok aktifis, tidak pula menganut otoritarianisme. Kita
disini semua sama. Seperti kata pepatah: berdiri
sama tinggi duduk sama rendah. Semua
mempunyai hak sama yang tak satupun bisa melarangnya, namun terkadang kita terlalu
sering menuntut hak sehingga jarang banget bahkan lupa memikirkan kewajiban
kita terlebih dahulu. Janganlah kita menjadi kaum sofistik yang
munafik. Kita teriakkan keadilan, kita teriakan hukum, kita pekikkan
kesejahteraan, kita gaungkan kesadaran, kita desuskan kebersamaan, namun kita
sendiri sering muncul menjadi bagian dalam masalah itu sendiri. Kata orang-orang bijak,
“kita
ini sedang berhujat dalam kegelapan”
Marilah
kawan, marilah sodaraku, marilah kawan seperjuanganku, kita menjadi manusia
yang bisa memanusiakan manusia. Marilah kita saling ASAH, saling ASIH, saling
ASUH. J Aku Rindu Kalian. Tidak
ada kalian maka tidak ada ‘KITA’.

Asekkk
BalasHapus