Refleksi Sumpah Pemuda
Meskipun sudah 84 tahun
berlalu, sumpah pemuda tetap relevan
untuk kita refleksikan bersama mengingat kondisi bangsa dan permasalahan bangsa
saat ini, khususnya pemuda sekarang. Pemuda adalah tonggak sejarah bangsa. Sederetan penggerak pejuang rata-rata
adalah pemuda. Pada masa-masa tahun 1928 merupakan pemuda yang bangkit rasa nasionalismenya dari latar belakang yang
berbeda-beda. Mereka kemudian tersadarkan perjuangan membutuhkan sebuah
kekuatan yang besar, dan kekuatan yang besar tersebut tidak akan muncul jika
mereka terpecah belah karena perbedaan primordial
yang ada.
Maka dari itu, mereka sangat penting untuk melakukan rekonsiliasi dan melupakan luka-luka
perpecahan yang pernah ada.
Permasalahan bangsa yang
kita hadapi saat ini adalah masuknya budaya hidup ke barat-baratan, sehingga
mengakibatkan budaya Negara kita sendiri terlupakan dan termakan budaya asing.
Sedangkan kita sangat menikmati budaya asing tersebut, mulai dari gaya
berpakaian, gaya berbicara, gaya bergaul dengan sesama, dll. Akibatnya budaya
kita sendiri mulai runtuh, mulai hilang dari bangsa ini, dimanakah Negara
Indonesia mempunyai identitas sendiri? Pemuda-pemudi di Negara kita acuh tak acuh terhadap apa yang terjadi
pada bangsa ini. Mungkin 10 atau 20 tahun lagi kita tidak akan mempunyai budaya
sendiri, bahkan mungkin kita akan menganut budaya asing. Kita sebagai pemuda
harapan bangsa seharusnya mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik
Nusantara ini. Tak luput dari gerakan-gerakan aktivis atau gerakan perubahan yang akan memperbaiki keadaan bangsa
ini.
Kita jangan hanya bisa
mengikuti, mentaati, mematuhi budaya asing. Indonesia itu kaya akan budayanya,
belum lagi kekayaan laut dan daratnya. Seharusnya kita mempertahankan semua
itu, kalau itu sudah kita pertahankan mulai dari budaya sampai kekayaan alam
kita, pasti Negara lain akan salut terhadap bangsa ini. Kita ini harapan
bangsa, ayo saudara-saudaraku, bangkitlah, kita dibutuhkan oleh bangsa ini,
kita perbaiki bangsa ini bersama agar kita benar-benar merdeka.
Oleh
: Abdul Fadli
Editor
: Abdul Fadli
Tidak ada komentar:
Posting Komentar