Senin, 02 November 2015

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA Oleh : Mufid



REFLEKSI SUMPAH PEMUDA
Oleh: Ab. Mufid

            Pemuda? Apa kabar pemuda Indonesia? Semoga kita pemuda Indonesia tidak lagi ‘sakit’. Semoga sehat-sehat saja. Apalagi menjadi pemuda yang kehilangan ‘kepemudaanya’, jangan sampai lah hal itu terjadi. Siapa itu Pemuda? Pemuda adalah seseorang yang belum tua, tapi sudah tidak lagi anak-anak. Hehe menirukan pendapat adek ku yang duduk di kelas 6 SD ketika ditanya siapa itu pemuda. Jika mengutip pasal 1 ayat 1 dari UU nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan yang berbunyi :

“Pemuda adalah warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 tahun”
            Dari pernyataan diatas, sudah sangat jelas bahwa jika seseorang memasuki usia rentang 16-30 tahun otomatis akan mendapatkan status Pemuda. Tapi, siapa dan seberapa penting sih pemuda itu? Kok sampai ada Acra Khusus Pemuda, Dinas Olahraga dan Kepemudaan bahkan sampai Menteri Kepemudaan dan Olahraga itu ada yang anehnya, kebanyakan kementerian dan dinas-dinas itu jajaran pemimpinya di isi oleh orang-orang yang usianya sudah lebih dari 30 tahun.  Kemudian juga sampai ada Sumpah Pemuda yang di gaungkan sejak tanggal 28 Oktober 1928. Banget pentingnya nampaknya si Pemuda ini. Kembali kepertanyaan, siapa dan seberapa penting sih Pemuda?
            Kalau saya sendiri mengartikan Pemuda mungkin dengan arti yang sedikit berbeda, menurut saya Pemuda adalah sesorang yang ketika ia mengalami di mana pada fase usia 15-(. . .) sekian tahun atau masa Pubertas. Namun, tidak hanya secara biologis melainkan jua secara psikis dan naiknya tingkat kepekaan serta kepeduliannya terhadap keadaan dan isu-isu Negara yang selalu datang menghujam. Karena, banyak pemuda di negeri ini yang secara Biologis ia menyandang status pemuda, namun kepekaan dan kepeduliannya tetap saja tak ada siklus peningkatan. Malahan banyak orang yang secara usia ia tidak pantas lagi menyandang status pemuda, sebut saja usinya sudah kepala 4, 5, bahkan sampai kepala 6, namun secara psikis dan  kepekaannya bisa saya sebut merepresentasikan Jiwa Pemuda. Jika kita mengingat kata-kata dari Bung Karno, beliau mengucapkan seperti ini.
“Berikan aku 1000 Orang Tua, Niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Berikan aku 10 Pemuda, Niscaya akan ku guncangkan Dunia”
            Kata-kata Bapak Proklamator ini Sampai hiperbola menurut saya. Gimana tidak? Masak 1000 orang tua hanya bisa mencabut Semeru dari akarnya, sedangkan yang 10 Pemuda saja bisa mengguncangkan dunia. Tentu ada makna filosofis di dalamnya.
            Yang jelas, peran pemuda sangatlah vital dalam Negara ‘kala itu’. Dan negeri ini berdiri karena Pemuda.  
            Sekarang kita intip pemuda di zaman orde paling baru ini, iya di era Reformasi. Pertanyaan nya,  Apakah pemuda zaman sekarang ini masih garang seperti Pemuda terdahulu? Atau lebih garang daripada Pemuda yang terdahulu? Atau sudah krisis, bahkan kegarangannya habis, atau yang saya khawatirkan  mereka tak pernah kehilangan kegarangannya sebagai pemuda, karena mereka tak pernah mempunyai Jiwa Kepemudaan. Iya , mungkin seperti saya sebut di atas, Pemuda saat ini telah kehilangan Kepemudaan nya. Kalau pemuda dulu, sering-sering menulis, melawan dan diskusi namun untuk pemuda masa ini hobi mereka adalah , selfie, rokok dan ngopi.
 Indonesia sedang Krisis Pemuda.
            Saya ngomong seperti ini tentu bukan tanpa ada alasan ataupun bukti. Terkait judul tulisan ini tentang ‘Refleksi Sumpah Pemuda’ nampaknya sekarang hanya menjadi sebuah ajang selebrasi. Terutama di kalangan Mahasiswa yang selalu di dengung-dengungkan menjadi agent of change. Hari sumpah pemuda, tak lebih menjadi ajang Selebrasi. Apalagi di perparah dengan kemunculan-kemunculan ‘Selebritis berwajah Aktivis’. Ia menyuarakan suara Rakyat dan milih turun ke jalan raya dengan tangan kiri mengepal ke atas sebagai bentuk perlawanan dan tangan kanannya memegang megaphone serta mulutnya ber orasi sampai berbusa, bukan karena ingin Refleksi ataupun Kontribusi, melainkan ingin bahkan butuh pengakuan dari teman-teman dan wartawan untuk di sebut ‘aktivis’. Walaupun tulisan-tulisan di papan demo mereka, teatrikal mereka, gema suara mereka mengatakan Refleksi, mengatakan Peduli, mengatakan Solidaritas, mengatakan kepemudaan.
Tapi ,hakikatnya mau kontribusi atau sekedar eksistensi? Tak lebih prioritas  output dari gerakan mereka adalah bisa masuk Koran, Majalah, lebih-lebih masuk kanal TV kancah Nasional lalu terkenal.
            Belum lagi, geliat Pemuda yang semakin memudar. Yang Pemuda dulu jika orang jawa menyebutnya adalah Otot Kawat Balung Wesi, sekarang menjadi Gigi kawat sukanya selfie.
            Saya tekankan lagi, bukanya disini saya benci Pemuda, karena saya sendiri tak lebih adalah seorang pemuda yang tanpa saya sadari Kepemudaan saya juga  semakin terdegradasi. Atau tidak  jua, saya menilai Pemuda disini secara Subjektif. Karena di luar sana, mungkin masih ada Pemuda-pemuda yang benar-benar Pemuda, walupun hanya minoritas.
            Tapi, bisa kita lihat sendiri Pemuda-pemuda Indonesia mayoritas. Secara umum, memang keadaanya seperti itu. Iya, kalau saya boleh memberi sebutan lagi, Pemuda Indonesia sedang meng-impotensi-kan diri. Iya Impoten. Gak iso ngaceng. Tak terangsang sama sekali dengan keadaan-keadaan yang sebenarnya bisa membuatnya ‘nafsu bergairah’. Mungkin perlu adanya obat kuat anti loyo.
            Hemmm, , , sejenak kita heningkan cipta, untuk mengenang dan mendoakan para Pemuda pendahulu kita, seraya merefleksi isi dari sumpah Pemuda.
“Kami putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia
  Kami putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu    Tanah air Indonesia
  Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”
3 butir di ataslah yang di ucapkan sebagai sumpah oleh para Pemuda Indonesia yang sebelumnya di adakan kongres Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (P3I) yang di usulkan oleh Mr. Prof. Moh. Yamin. S.H. Sebelum 3 butir ini menjadi konsensus bersama, Moh. Yamin mengutarakan 5 hal yang dijadikannya latar belakang terbentuknya Sumpah Pemuda yaitu:
1.      Sejarah
2.      Bahasa
3.      Hukum adat/Toleransi
4.      Pendidikan
5.      Kemauan
5 hal di ataslah yang melatabelakangi sumpah Pemuda yang akhirnya menjadi cita-cita bersama yang tak lain adalah kemauan untuk Merdeka.
            Tentu, 5 hal tersebut atau 3 butir isi dari Sumpah Pemuda jika kita jelaskan secara komprehensif sangatlah mendalam. Dan butuh 1 kardus rokok serta ribuan cangkir Kopi untuk menjadi teman kita mengurai isi dari sumpah itu. Yang pasti, kelima hal tersebut menngambarkan sifat ke-egaliter-an. Sama rata-sama rasa, Senasib seperjuangan.
            Disini Saya cenderung ingin mengajak para pemuda untuk sama-sama kita meng-aktualisasi-kan diri kita menjadi pemuda yang benar-benar pemuda. Dengan cara apa? Yang jelas beberapa uraian saya di atas saya kira cukup bisa men-stimulus atau paling tidak memberi gambaran umumnya. Oh ya, hampir saya lupa, kemarin lusa saya sempat buka web dari RRI (Radio Republik Indonesia), ada Sumpah Pemuda jilid 2. Adapun bunyi Sumpah Pemuda jilid 2 Sebagai berikut:
1.      Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, tetap setia kepada Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
2.      Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, mewujudkan Indoneisa sebagai bangsa yang bermartabat, Demokratis, Adil dan Sejahtera
3.      Kami Putra dan Putri Indonesia berjanji dengan segenap jiwa dan raga, membangun Indonesia dengan memuliakan lautnya dan berdiri teguh didaratannya dengan pembangunan yang berwawasan cinta lingkungan.

Adanya sumpah Pemuda jilid II ini bukan bermaksud mengkhianati atau tidak mengakui terhadap sumpah pemuda yang pertama. Saya  tidak menanyakan atau mencari hal ini lebih mendalam, hanya saja saya menilai sumpah pemuda jilid II ini adalah batasan, atau gambaran, atau cara/metode  secara umum untuk kita merefleksikan Sumpah Pemuda yang pertama. Untuk secara sinkro atau spesisiknya, saya kembalikan kepada para pembaca yang budiman. Kerena bentuk Refleksi pun sangat variatif.
Iyo rek, mosok 87 tahun  dari 1928-2015 mung ngucap sumpah tok. Kapan pembuktiane?? 
Salam Pemuda!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar