Oleh: Ab. Mufid
Utang Luar Negeri (ULN)
Idiuw.
. . ngomongin yang satu ini nampaknya lagi ngomongin salah satu permasalahan
yang pelik dinegeri ini. (emang ada berapa masalah dinegeri ini?). Dan sepereti
menyibir saya, karena hidupku yang penuh dengan hutang. Dari hutang sabun
cucian, dan odol pada teman kos saya, hutang rokok eceran diwarung tetangga sampai
hutang celana dalam di toko depan gang
kontrakan ku. Maklumlah anak perantauan, jauh kasih apalagi sayang, namun
selalu dekat dengan belas sisih dan hutang.
Saya tidak curhat kok, tenang.
Saya tidak curhat kok, tenang.
Oke kita kembali ke topik.
Hutang menjadi salah satu alasan pemerintah
untuk modal mengawali pembangunan. Pertama kali yang saya tahu, bahwa pada akhir perang dunia
ke dua lebih tepatnya ketika awal Bung Karno memimpin, Indonesia sudah punya
hutang, itu tidak bisa dipungkiri, lagi-lagi dalih pembangunan dijadikan tameng
sekaligus kambing hitamnya. Era Soekarno yang memimpin Indonesia raya merdeka sejak
1945-1966 atau sekitar 21 tahun lamanya, meninggalkan hutang yang tidak sedikit
kepada pemerintahan selanjutnya (Orde
Baru). Menurut sumber Tempokini dan BI tercatat Bung Karno mewariskan hutang
sebanyak US$6,3 Milyar.(kiro-kiro nek di
Rupiah no piro iku rek?)
Namun disamping itu juga nampak
pengalokasian dana hutang yang sedikit
jelas.(iya banyak yang gak jelas, mungkin) Terutama yang bisa kita nikmati
hingga saat ini, ada tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta, Bundaran HI
(Hotel Indonesia), Tugu Pancoran, bahkan masjid terbesar se Asia Tenggara,
apalagi kalau bukan masjid yang di bangun atas arsitek Bapak Proklamator ini,
Masjid Istiqlal di Mother City. Lalu
jika kita napak tilas ke kota Palangkaraya, Kalimantan tengah, disana sampai
saat ini masih terlihat bangunan-bangunan yang arahnya dijadikan gedung
besar/megah yang tak terselesaikan. Kira-kira bangunan apa itu?
Menurut buku yang sempet saya baca
kemarin, pada tahun 1957-1959 di Kalimantan tengah ini wacananya akan
dicanangkan sebagai Ibu Kota Indonesia oleh Bung Karno, namun karena suhu
politik yang panas pada masa itu, proyek
pun terbengkalai sampai saat ini, hingga akhirnya dewasa ini ada wacana untuk
memindahkan kembali ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Palangkaraya. Buku yang
diberi pengantar oleh Guruh Soekarno Putra sendiri ini juga menerangkan ada
beberapa Master Plan di Palangkaraya yang sebenarnya siap di garap. Tapi disini
saya tidak akan membahas lebih lanjut perihal ibu yang diwacanakan di kota yang
di lalui garis khatulistiwa itu, saya akan lebih ke ULN nya. (Utang Luar
Negeri).
Nampaknya hutang menjadi budaya yang
turun temurun. Pada era Soeharto tak kalah Gendeng!
Hutang kita seperti tangan yang disengat kala jengking kemudian terpukul palu
dengan keras masih di injak gajah, abuh
kabeh rakaru karuan (super bengkak). Dari yang hanya US$ 6 Milyar menjadi
US$ 151 Milyar, iya kira-kira 25 kali lebih besar. Bapak Jendral ini memimpin
dalam kurun waktu yang tidak sebentar, ia memimpin Indonesia selama 32 tahun.
Waduh, umpomoSakki jek ngunu tak uncal ne
neng Brantas,terus tak cekok’I apotas ben modyar. Iya cuman umpama kok .
32 Tahun berjalan , banyak prestasi yang ditorehkannya. Hingga ia
dijuluki bapak pembangunan. Ndak tahu pembangunan apa. Pembangunan struk Hutang
mungkin, atau pembangunan rumahnya sendiri ndak tahu saya. Biarlah, ia sedang
beristirahat di alam baka. (iyo nek
istirahat, lha nek sakki di sikso ya gak ngerti aku) tapi, aku terus muji dateng Pengeran mugi-mugi A-Soe harto pikantok pangapuro marang kang kuoso, walau sesekali
terkekeh jika saya melihat ia disiksa. Owwhh.
. pancen asu!
Haduh
, tekan ndi mau? Kok tambah ngrasani wong seng wes mati. Oh iya, sampai
bapak pembnguna tadi ya? Kemudian setelah ia dipaksa lengser oleh arak-arakan para demonstran pada peristiwa 98 ia digantika
oleh teknorat Baharudin Jusuf Habibie. Hanya 17 bulan suami Ainun ini memimpin,
namun hutang yang diwariskan oleh orba bisa dikuranginya menjadi US$ 148 Milyar
walaupun juga ada pulau kita yang terlepas.
Mana lagi kalau bukan pulau Timor
Timur. Haduh, memang serba Paradoks, satu sisi baik pasti satu sisi ada
buruknya. Seperti aku dan pembaca, aku buruk dan pembaca yang budiman. Namun hutang kita
pernah menyentuh angka 0, kalau ndak salah awal 2009 pada pemerintahan SBY.
Walau akhirnya mantan Presiden lulusan UNPAD ini hutang lagi, dan juga
meninggalkan warisan hutang kepada Presiden sekarang ini (Jokowi).
Saya singkat saja, pada akhir April
kemarin tercatat hutang Indonesia mencapai 2,845 Triliyun . bukan angka yang
sedikit. Nampaknya benar-benar si hutan g ini punya peran yang sangat vital
dalam Negara. Jika di tangguhkan ke seluruh warga Negara Indonesia, maka
“Setiap
bayi yang lahir di Indonesia ini, menanggung hutang kurang lebih Rp. 17 juta”.
Kata dosen.
Sekarang
pertanyaanya? Kenapa harus hutang? Dan setuju ndak jika hutang?
”
Kita hutang karena kas Negara kita kosong, disamping kekosongan kas itu kita
dituntut untuk membangun, jadi jalan satu-satunya adalah hutang”. Pendapatku,
menirukan beberapa statment yang
kubaca dari internet. Tentu semua kebijakan bersifat paradoks seperti apa yang
saya utarakan diatas. Termasuk kebijkan hutang ini, banyak menuai pro dan kontra dikalangan
masyarakat. Saya sendiri termasuk orang
yang kontra dengan hutang, dan jika dikaitkan dengan pertanyaan yang pertama
seharusnya, kita tidak usah hutang. Karena begini, saya punya analogi sederhana
tentang hutang Negara ini.
Kita ibaratkan , Negara Indonesia yang kaya
raya alamnya ini adalah keluarga kita, nah jika kita ditinggal mati oleh kedua
orang tua kita, disamping itu kita punya kewajiban harus membayar pajak rumah,
kendaraan atau bayar uang SPP maupun kuliah sedangkan kas atau tabungan
keluarga kita kosong. Nahh disamping itu, orang tua mati, meninggalkan warisan
yang banyak.Warisan Ini kalau kita
analogikan ke Negara adalah kekayaan
alam, termasuk gugusan Pulau yang katanya sampai 17.508 buah pulau. Disini,
jika anda menjadi si anak yang ditinggal mati akan bagaimana? Dan kira-kira
dari belasan ribu pulau itu yang dihuni hanya sekitar seribu pulau atau bahkan
kurang dari itu.
Kira-kira logika sehatnya, mau
hutang kepada orang lain atau mau menjual warisan orang tua, atau mungkin
menggadaikan dulu warisan orang tua.
Jangan cuman ngomong NKRI harga mati tapi tak
tahu makna filosofinya. Think again?!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar