Minggu, 25 Oktober 2015

Spiritual Enterpreneurial Quotient (Oleh: Mufid)




Oleh: Ab. Mufid
SPIRITUAL ENTERPRENEURIAL QUOTIENT (SEQ)

            Tentu para pembaca yang budiman tidak tabu lagi jika membaca judul diatas. Terutama di kata Enterpreneur. Seperti langsung menjadi apriori. Iya, langsung terlintas nampaknya dibenak anda bahwa tulisan ini nantinya tidak akan jauh membahas tentang ’Wirausahawa’. Namun, kalimat diatas yang terdiri dari 3 kata itu, jujur secara epistemologi saya belum paham, apalagi menjelaskannya secara komprehensif.
            Namun, maksudnya sedikit banyak ngerti kok. In Sha Allah. Jadi Spiritual
Enterpreneurial Quotient jika saya menjelaskan dengan versiku dewe,  kurang lebih seperti ini. Spiritual Enterpreneurial Quotient atau sering disingkat SEQ ini merupakan kekuatan, cara, attitude ataupun kecerdasan yang nantinya ber korelasi hasil dalam berwirausaha dengan memberi skala prioritas yang besar terhadap The Power of Spiritual Human. Jadi mengutamakan kekuatan spiritual seseorang dalam berwirausaha, mungkin jika kita artikan dengan makna yang lebih luas kata spiritual bisa kita artikan dengan hal-hal yang apapun itu berkaitan sangat erat dengan Tuhan, keyakinan, maupun Agama. Ataupun amalan-amalan khusus yang bisa mendatangkan kemudahan lebih-lebih keberhasilan dalam berwirausaha. Iya kira-kira seperti itu.
            Dari ulasan yang dipaparkan oleh pemateri Sabtu pagi itu, saya masih ingat betul ‘model’ dari basis Spiritual Enterpreneurial Quotient ini. Sedikitnya ada 5 variabel, pertama dan paling utama adalah orientasi pada akhirat. (kedua dst: ingat Allah, jihad di jalan Allah, mengingat mati, dan khalifah fil ardli). Iya kelima variabel itulah yang menjadi palang pintu kita masuk ke dalam SEQ ini. Namun jika diuraikan pun itu masih sangat luas, bahkan ada variable lain yang masuk didalamnya, namun itu semua lebih di payungi akan apa yang disampaikan di awal ketika diskusi ‘sexy’ ini dimulai, yaitu Tasawuf dan Makrifatullah. Sangat menarik sebenarnya materi yang diangkat oleh pemateri yang akrab di sapa Riki ini, yang notabene beliau juga pernah atau mungkin menurut saya mempunyai porsi dibidang wirausaha ini. Pria jurusan Pendidikan Tataniaga ini, dulu sekitar 1 tahun yang lalu sempat membuka keran rezeki dengan menjadi Enterpreneur, tepatnya berjualan Rujak Manis dan budidaya jamur tiram walau untuk sementara waktu ini vakum.
            Berbincang tentang wirausaha, saya teringat kemarin dulu, waktu saya semester 3 saya juga pernah menekuni bidang usaha ini, kalau tadi Sdr. Riman (Riki Rahman) nama lengkap beliau usaha berjualan Rujak dan budidaya jamur, hampir sama dengan saya. Saya memilih berjualan Kue Pukis. Bersama Fajar, (teman 1 atap jua)  saya memulai usaha ini, walau tak beda jauh untuk saat ini vakum, seperti jua yang pernah dilakukan Roni berjualan Piscok (Pisang Coklat). Iya vakum. Tapi Vakum bukan berarti mati. Sebenranya sudah banyak anggota  keluarga di ‘Gubuk Surga’ kami  ini yang berwirausaha. Dan tanpa kami sadari sebelum mendapat kan ilmu tentang SEQ ini, in Sha Allah kami sudah sedikit banyak memakai konsep dan variabel yang saya sebut diatas tadi. Namun, tak seberapa jelas. Hingga kemarin sabtu, kami semua dapat ulasan yang jelas terkait metode yang dipakai Rasulullah dan para sahabatnya ini.
            Dan jika saya boleh sedikit berbagi ilmu terkait konteks ini. saya sedikit punya tips dalam berwirausaha yang berbasis SEQ.
            Masih teringat, walau sedikit samar. Ketika saya mengawali usaha Pukis saya dulu, saya  memulainya dengan  ber sedekah, dan sholat hajat. Ini pun saya menirukan anjuran dari Ustad yang pernah punya hutang sampai Milyard an rupiah sampai akhirnya hutang-hutangnya lunas bahkan sukses, beliau adalah Ust. Yusuf Mansur. Karena pada hakikatnya sedekah itu adalah induk dari analogi memancing ikan. Maksudnya gimana? Jadi gini, kalau kita memancing dan ingin menangkap ikan, maka harus ada umpan di kail kita, kita harus rela kehilangan umpan itu yang jelas nanti ending-nya umpan kita akan di makan ikan, kemudian ikan kita dapatkan. Kecil besar, dan ‘baik tidaknya’ umpan yang kita pakai akan sangat mempengaruhi ikan yang akan kita dapatkan. Sederhananya gini, semakin besar dan bagus umpan yang kita gunakan, maka semakin besar dan bagus pula ikan yang akan kita dapatkan. Tentu dengan catatan SKB (Syarat & Ketentuan Berlaku).
            Yang saya rasakan, kekuatan spiritual itu sangat besar pengaruhnya terhadap semua yang kita lakukan termasuk  ketika kita mau/sedang berkecimpung di Wirausaha. Namun, jika saya diizinkan lagi untuk menambahkan tips saya yang sedikit ini dengan sedikit imbuhan lagi, ada variabel lain yang menjadi pelengkap spiritual yaitu Intelektual, dan Kultural. Singkatnya, intelektual adalah kita harus jua memahami teori-teori maupun metode yang sudah ada dan diakui kebenaranya secara universal, dan kultural adalah pun kita dituntut terjun langsung mengamatai lapangan, jadi mencoba menyinkronkan teori, yang secara konseptual tadi kita coba meng-operasional-kan nya dalam realita.
            Dari semua itu, In Sha Allah kita akan mendapatkan apa yang dianjurkan seperti apa yang selalu kita ucap dalam doa setelah sembahyang kita. Robbana atiina fiddunya hasanah, wa fil akhiroti khasanah. Bisa meng-Orientasikan Dunia dan akhirat dengan imbang.
            Jadi tidak Menduniakan Akhirat, dan tidak pula Meng-Akhiratkan Dunia. Namun bisa Mendunia Akhiratkan Kehidupan ini.  (terkhusus dalam vak ini adalah Wirausaha). Atau jika saya meminjam kalimat orang-orang Suci, “Manusia yang ahli Dunia, Akhirat diharamkan baginya, manusia yang ahli Akhirat, Dunia diharamkan baginya”.
            Lebih-lebih bisa menjadi Manusia yang diharamkan akan keduanya, kepada dunia ataupun akhirat, but be the last oriented is yang ‘punya’ Dunia dan Akhirat.  
            Semoga yang ingin menjadi Enterpreneur bisa tercapai sesuai ajaran yang telah diajarkan, dan semoga kita selalu dalam ridlo-NYA. Aaamin Tuhan.    
Salam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar