Oleh: Ab. Mufid
SPIRITUAL ENTERPRENEURIAL
QUOTIENT (SEQ)
Tentu para pembaca yang budiman
tidak tabu lagi jika membaca judul diatas. Terutama di kata Enterpreneur. Seperti
langsung menjadi apriori. Iya,
langsung terlintas nampaknya dibenak anda bahwa tulisan ini nantinya tidak akan
jauh membahas tentang ’Wirausahawa’. Namun, kalimat diatas yang terdiri dari 3
kata itu, jujur secara epistemologi saya belum paham, apalagi menjelaskannya
secara komprehensif.
Namun, maksudnya sedikit banyak
ngerti kok. In Sha Allah. Jadi Spiritual
Enterpreneurial Quotient jika saya menjelaskan
dengan versiku dewe, kurang lebih seperti ini. Spiritual
Enterpreneurial Quotient atau sering disingkat SEQ ini merupakan kekuatan,
cara, attitude ataupun kecerdasan yang
nantinya ber korelasi hasil dalam berwirausaha dengan memberi skala prioritas
yang besar terhadap The Power of
Spiritual Human. Jadi mengutamakan kekuatan spiritual seseorang dalam
berwirausaha, mungkin jika kita artikan dengan makna yang lebih luas kata
spiritual bisa kita artikan dengan hal-hal yang apapun itu berkaitan sangat
erat dengan Tuhan, keyakinan, maupun Agama. Ataupun amalan-amalan khusus yang
bisa mendatangkan kemudahan lebih-lebih keberhasilan dalam berwirausaha. Iya kira-kira
seperti itu.
Dari ulasan
yang dipaparkan oleh pemateri Sabtu pagi itu, saya masih ingat betul ‘model’
dari basis Spiritual Enterpreneurial Quotient ini. Sedikitnya ada 5 variabel,
pertama dan paling utama adalah orientasi pada akhirat. (kedua dst: ingat
Allah, jihad di jalan Allah, mengingat mati, dan khalifah fil ardli). Iya kelima
variabel itulah yang menjadi palang pintu kita masuk ke dalam SEQ ini. Namun jika
diuraikan pun itu masih sangat luas, bahkan ada variable lain yang masuk
didalamnya, namun itu semua lebih di payungi akan apa yang disampaikan di awal
ketika diskusi ‘sexy’ ini dimulai, yaitu Tasawuf dan Makrifatullah. Sangat menarik
sebenarnya materi yang diangkat oleh pemateri yang akrab di sapa Riki ini, yang
notabene beliau juga pernah atau mungkin menurut saya mempunyai porsi dibidang
wirausaha ini. Pria jurusan Pendidikan Tataniaga ini, dulu sekitar 1 tahun yang
lalu sempat membuka keran rezeki dengan menjadi Enterpreneur, tepatnya berjualan Rujak Manis dan budidaya jamur
tiram walau untuk sementara waktu ini vakum.
Berbincang
tentang wirausaha, saya teringat kemarin dulu, waktu saya semester 3 saya juga pernah
menekuni bidang usaha ini, kalau tadi Sdr. Riman (Riki Rahman) nama lengkap
beliau usaha berjualan Rujak dan budidaya jamur, hampir sama dengan saya. Saya memilih
berjualan Kue Pukis. Bersama Fajar, (teman 1 atap jua) saya memulai usaha ini, walau tak beda jauh
untuk saat ini vakum, seperti jua yang pernah dilakukan Roni berjualan Piscok
(Pisang Coklat). Iya vakum. Tapi Vakum bukan berarti mati. Sebenranya sudah
banyak anggota keluarga di ‘Gubuk Surga’
kami ini yang berwirausaha. Dan tanpa
kami sadari sebelum mendapat kan ilmu tentang SEQ ini, in Sha Allah kami sudah
sedikit banyak memakai konsep dan variabel yang saya sebut diatas tadi. Namun,
tak seberapa jelas. Hingga kemarin sabtu, kami semua dapat ulasan yang jelas
terkait metode yang dipakai Rasulullah dan para sahabatnya ini.
Dan jika
saya boleh sedikit berbagi ilmu terkait konteks ini. saya sedikit punya tips dalam
berwirausaha yang berbasis SEQ.
Masih teringat, walau sedikit samar. Ketika
saya mengawali usaha Pukis saya dulu, saya memulainya dengan ber sedekah, dan sholat hajat. Ini pun saya
menirukan anjuran dari Ustad yang pernah punya hutang sampai Milyard an rupiah
sampai akhirnya hutang-hutangnya lunas bahkan sukses, beliau adalah Ust. Yusuf
Mansur. Karena pada hakikatnya sedekah itu adalah induk dari analogi memancing
ikan. Maksudnya gimana? Jadi gini, kalau kita memancing dan ingin menangkap
ikan, maka harus ada umpan di kail kita, kita harus rela kehilangan umpan itu
yang jelas nanti ending-nya umpan
kita akan di makan ikan, kemudian ikan kita dapatkan. Kecil besar, dan ‘baik
tidaknya’ umpan yang kita pakai akan sangat mempengaruhi ikan yang akan kita
dapatkan. Sederhananya gini, semakin besar dan bagus umpan yang kita gunakan,
maka semakin besar dan bagus pula ikan yang akan kita dapatkan. Tentu dengan
catatan SKB (Syarat & Ketentuan Berlaku).
Yang saya
rasakan, kekuatan spiritual itu sangat besar pengaruhnya terhadap semua yang
kita lakukan termasuk ketika kita
mau/sedang berkecimpung di Wirausaha. Namun, jika saya diizinkan lagi untuk menambahkan
tips saya yang sedikit ini dengan sedikit imbuhan lagi, ada variabel lain yang
menjadi pelengkap spiritual yaitu Intelektual, dan Kultural. Singkatnya,
intelektual adalah kita harus jua memahami teori-teori maupun metode yang sudah
ada dan diakui kebenaranya secara universal, dan kultural adalah pun kita
dituntut terjun langsung mengamatai lapangan, jadi mencoba menyinkronkan teori,
yang secara konseptual tadi kita coba meng-operasional-kan nya dalam realita.
Dari semua
itu, In Sha Allah kita akan mendapatkan apa yang dianjurkan seperti apa yang
selalu kita ucap dalam doa setelah sembahyang kita. Robbana atiina fiddunya hasanah, wa fil akhiroti khasanah. Bisa meng-Orientasikan
Dunia dan akhirat dengan imbang.
Jadi tidak
Menduniakan Akhirat, dan tidak pula Meng-Akhiratkan Dunia. Namun bisa Mendunia
Akhiratkan Kehidupan ini. (terkhusus
dalam vak ini adalah Wirausaha). Atau jika saya meminjam kalimat orang-orang Suci,
“Manusia yang ahli Dunia, Akhirat diharamkan baginya, manusia yang ahli Akhirat,
Dunia diharamkan baginya”.
Lebih-lebih
bisa menjadi Manusia yang diharamkan akan keduanya, kepada dunia ataupun
akhirat, but be the last oriented is
yang ‘punya’ Dunia dan Akhirat.
Semoga yang
ingin menjadi Enterpreneur bisa tercapai sesuai ajaran yang telah diajarkan,
dan semoga kita selalu dalam ridlo-NYA. Aaamin Tuhan.
Salam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar