Senin, 19 Oktober 2015

Hutang Luar Negeri (oleh: Fajar)



Oleh: Fajar
Mikirin Utang

Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan ngutang dan mengutangi  sudah menjadi hal lumrah. Saat penghasilan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka utang menjadi salah satu jalan keluar yang paling difavoritkan. Jangankan yang penghasilannya kecil, terkadang orang tak berpenghasilan pun berani berutang. Padahal utang tetaplah utang yang harus dibayar. Bagaimana mungkin orang yang sadar akan kemampuan finansialnya berani berutang melebihi kemampuannya untuk membayar? Dilain sisi, apa yang dipikirkan si pemberi utang? Apa mereka tidak mempertimbangkan kemampuan membayar si pengutang? Sudahlah, kita sebut saja itu masalah pribadi seseorang yang menjadi tanggung jawabnya sendiri, bukan utang kita. Tapi, bagaimana jika yang berutang itu negara kita sendiri? Sedikit banyak kita perlu untuk sekedar tahu *minimal lah*. Sudah menjadi rahasia umum kalau negara kita banyak menanggung beban hutang. Terutama warisan hutang dari era orde baru.         
     Di era kepemimpinan  dengan gaya otoriter ala Bapak Pembangunan Bangsa ini, negara  kita banyak sekali memperoleh asupan utang dari luar. Pembangunan pada saat itu memang jor-joran, tetapi kebanyakan tidak dilakukan dengan pertimbangan yang matang akan batas kemampuan negara. Eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) tidak lagi mempertimbangkan konservasi lingkungan dan keberlanjutan SDA itu sendiri di kemudian hari, tak peduli nanti anak cucunya membeli tanah dan air di negerinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dana dalam rangka pembangunan negara dan “pembangun negara” maka dipililhlah Utang Luar Negeri sebagai salah satu jalan keluarnya, keluar kemana?  Seperti halnya sebuah keluarga, pinjam uang ke tetangga itu hal biasa, pun negara kita yang berutang ke negara lain, bank dunia, IMF, dan sebagainya. Negara kita juga butuh dana sebagai modal, tapi modal harusnya tetaplah dimaknai sebagai modal yang harus dikembangkan untuk memperoleh keuntungan. Dari keuntungan maka diperoleh dana untuk membayar utang, jadi utang bukannya terus bertambah dan apalagi jadi sumber pendapatan.
Bukan tidak mungkin dalam bernegara kita juga menerapkan perilaku sederhana, mawas diri akan kemampuan sendiri. Ketika negara mengejar pembagunan di segala sektor namun di sisi lain beban utang kita tak terbendung terus melambung bisa saja menjadi boomerang yang menikam negara kita sendiri nantinya. Toh yang menikmati kesejahteraan dan yang menanggung utang itu negara kita sendiri, keluarga sendiri, jadi kenapa harus mengejar pembangunan dengan eksploitasi gila-gilaan, hanya untuk menunjukkan kegagahannya tapi di balik itu kita berjalanpun tertatih-tatih. Sudah terlanjur utang, sudah terlanjur gede utangnya, biarkan para pemimpin kita berijtihad bersama memikirkan solusinya, dengan kita bantu doa, dan tetap berusaha menjadi warga negara yang baik, tidak merugikan diri sendiri, keluarga, tetangga, dan orang lain disekitar kita. Supaya terbangun fundamental yang kuat dari bawah dan kita ingat akan utang kita sendiri ke tetangga sebelah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar