Oleh: Fajar
Mikirin Utang
Dalam kehidupan
sehari-hari kegiatan ngutang dan mengutangi sudah menjadi hal lumrah. Saat penghasilan
yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka utang
menjadi salah satu jalan keluar yang paling difavoritkan. Jangankan yang
penghasilannya kecil, terkadang orang tak berpenghasilan pun berani berutang.
Padahal utang tetaplah utang yang harus dibayar. Bagaimana mungkin orang yang
sadar akan kemampuan finansialnya berani berutang melebihi kemampuannya untuk
membayar? Dilain sisi, apa yang dipikirkan si pemberi utang? Apa mereka tidak
mempertimbangkan kemampuan membayar si pengutang? Sudahlah, kita sebut saja itu
masalah pribadi seseorang yang menjadi tanggung jawabnya sendiri, bukan
utang kita. Tapi, bagaimana jika yang berutang itu negara kita sendiri?
Sedikit banyak kita perlu untuk sekedar tahu *minimal lah*. Sudah menjadi
rahasia umum kalau negara kita banyak menanggung beban hutang. Terutama warisan hutang dari era orde baru.
Di
era kepemimpinan dengan gaya otoriter ala Bapak Pembangunan Bangsa ini, negara kita banyak sekali memperoleh asupan utang
dari luar. Pembangunan pada saat itu memang jor-joran,
tetapi kebanyakan tidak dilakukan dengan pertimbangan yang matang akan
batas kemampuan negara. Eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) tidak lagi
mempertimbangkan konservasi lingkungan dan keberlanjutan SDA itu sendiri di
kemudian hari, tak peduli nanti anak cucunya membeli tanah dan air di negerinya
sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan dana dalam rangka pembangunan negara dan
“pembangun negara” maka dipililhlah Utang Luar Negeri sebagai salah satu jalan
keluarnya, keluar kemana? Seperti
halnya sebuah keluarga, pinjam uang ke tetangga itu hal biasa, pun negara kita
yang berutang ke negara lain, bank dunia, IMF, dan sebagainya. Negara kita juga
butuh dana sebagai modal, tapi modal harusnya tetaplah dimaknai sebagai modal
yang harus dikembangkan untuk memperoleh keuntungan. Dari keuntungan maka
diperoleh dana untuk membayar utang, jadi utang bukannya terus bertambah dan
apalagi jadi sumber pendapatan.
Bukan tidak mungkin dalam
bernegara kita juga menerapkan perilaku sederhana, mawas diri akan kemampuan
sendiri. Ketika negara mengejar pembagunan di segala sektor namun di sisi lain
beban utang kita tak terbendung terus melambung bisa saja menjadi boomerang
yang menikam negara kita sendiri nantinya. Toh yang menikmati kesejahteraan dan
yang menanggung utang itu negara kita sendiri, keluarga sendiri, jadi kenapa
harus mengejar pembangunan dengan eksploitasi gila-gilaan, hanya untuk
menunjukkan kegagahannya tapi di balik itu kita berjalanpun tertatih-tatih.
Sudah terlanjur utang, sudah terlanjur gede utangnya, biarkan para pemimpin
kita berijtihad bersama memikirkan solusinya, dengan kita bantu doa, dan tetap
berusaha menjadi warga negara yang baik, tidak merugikan diri sendiri,
keluarga, tetangga, dan orang lain disekitar kita. Supaya terbangun fundamental
yang kuat dari bawah dan kita ingat akan utang kita sendiri ke tetangga
sebelah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar